Pengalaman Pertama Buka di Medan dan Sahur Ramadhan di Tanoh Rencong

22 08 2010

Menjelang hari ke 12 bulan ramadhan 1431 H/2010 dan menginjak ke 4 tahunnya  dari tahun 2007 mengalami shaum di Tanoh Rencong, negeri serambi Mekah yang dikenal dengan Kota Banda Aceh. Pada awalnya terasa sangat  berat menjalani ibadah shaum  di kota ini, sebab pengaruh cuaca yang panas diluar maupun di dalam ruangan sama panasnya (bayeungyang. cur-cor kesang ti buuk nepi ka dampal suku), beda dengan kota tempat asal (bandung) didalam rumah/ruangan masih terasa adem (bisa gogolehean), pengalaman ini pada bulan ramadhan tahun 2007, yang merupakan awal tugas ke provinsi Aceh lagi setelah berkutat dan malang melintang di dunia Consultant Mapping dan Side Job (Jawa, Flores, NTB).

Sebenarnya kalo dihitung dari tahun ’90-an sudah mengalami shaum ramadhan di Provinsi Aceh ini, namun waktu itu tempat kerjanya di Bandung, jadi berada di aceh hanya sementara saja, paling untuk mengurus adminitrasi proyek (tender) dan survey serta bikin laporan pendahuluan biar bisa narik duit tuk bisa pulang ke Bandung. Pada bulan ramadhan tahun itu ada kejadian yang lucu bahkan malu, jadi begini ceritanya ; Kami berdua berangkat dari Bandung dengan Soulmate  naik kereta api Parahyangan jam 7.00 menuju gambir, dikarenakan jadwal Boarding Pesawat Mandala tujuan Medan jam 14.00 (pada waktu itu belum ada pesawat lain menuju Banda Aceh kecuali Pesawat Garuda). Singkat cerita tibalah di Polonia Medan pada jam 17.00 WIB..wah kupikir tinggal 1 jam lagi menuju bedug Maghrib tuk buka puasa. Sambil melewatkan waktu menuju buka puasa kami mencari tumpangan untuk menuju Terminal/Pool BUS MALAM jurusan Takengon Kabupaten Aceh Tengah, setibanya di terminal Bus tepat pukul 18.00 WIB…dibukalah tentengan dari pesawat tadi berupa Makanan yang dikasih sama pramugari nan cantik…, tapi belum sempat disantap…kawan tadi tengok kiri-kanan dilihatnya koq gak ada yang makan…padahal jam 18.00 kan waktunya buka puasa…., saking penasaran nanyalah ke abang kedai yang ada disitu…”eh…mau tanya bang, orang-orang koq gak ada yang buka puasa padahal waktunya dah masuk bang” tanya aku dengan yakinya. Si abang tadi malah balik tanya “dek emangnya kalian dari mana mau kemana?”..ini medan dek waktu bukanya setengah jam lagi, jadi kalian bersabar sikit kenapa’!….Akhirnya bilang terima kasih sambil muka merah….(malu juga).

Setelah 1/2 jam menuggu akhirnya berbukalah kami juga dengan orang-orang yang ada di sekitar terminal ini. Jadwal keberangkatan BUS MALAM kami pada puluk 21.00 malam dengan seat 18 penumpang kursi 2-1, busnya paten dan keren bisa selonjoran macam kursi kereta api Eksekutif. Sebelum berangkat kami beli makanan yang cukup untuk sahur di Bus, karena  waktu itu kami belum tahu tempat dan makanan yang cocok bila Bus berhenti atau istirahat di jalan. Tepat jam 21.00 bus kamipun melaju dengan tujuan Kota Takengon dengan waktu tempuh 7-8 jam perjalanan. Setibanya di tujuan kami langsung berhenti di depan Penginapan Danau Laut Tawar…begitu turun kaki terasa kaku dan berrr…hawa dingin menyelimuti kota ini..lebih dingin dari kota asalku (Bandung).

Singkat cerita siangya kami ada urusan dengan pemda setempat hingga sore hari dan tak terasa maghribpun tiba pada pukul 18.45..hampir pukul 7 malam. Nah…ini ada cerita lucu dan bikin malu lagi, begini ceritanya ; Sewaktu habis isya dan tarawih kami langsung masuk kamar dan tarik selimut untuk munuju peraduan, mengingat hawa diluar dan didalam ruangan begitu menggigilnya, ditambah mau sekedar jalan-jalan atau main …semua kegiatan toko tutup, kendaraan gak ada yang lalu-lalang lagi, jadi mendingan masuk penginapan langsung tidur. Sebelum tidur saya niatkan untuk bangun jam 3.30 dini hari (pada waktu itu gak ada hape tuk bunyiin alarm, mau interlokal aja ngantri pake nomor), jadi pada waktunya Alhamdulillah tepat bangun seperti yang diniatkan tadi. Berjalanlah kami menuju tempat makan sewaktu buka sebelumnya yaitu Warung Nasi Padang, semangat kami menerobos dinginnya malam itu kurang lebih 10 menit tiba di warung tersebut, langsung pesan nasi 2 porsi, dengan nikmatnya nasi padang dilahap oleh kami….namun ditengah perjalanan santap sahur terdegarlah kumandang adzan..aku bergumam sama kawan ” wah..telat kita sahurnya nih…pantesan cuma kita berdua yang makan, terus penutup warungnya sedikit yang dibuka, berarti orang-orang sudah pada makan dan pulang,” pikirku. Akhirnya kami panggil si Uda yang punya warung, “da berapa semua?” tanyaku, si Uda malah bengong dan balik tanya pula “kenapa makannya sedikit dan masih sisa?” tanya si Uda, “barusan sudah kelewat imsak dan sudah masuk adzan da jadi kami berhenti makan sahurnya”, jawabku…..si Uda terkekeh-kekeh dan tanya lagi sama kami “memang kalian dari mana?”, “kami baru sehari di kota ini, asalnya kami dari Bandung!” jawabku, “oh….pantes, si uda menimpali, jadi kalo jam 4 disini orang-orang belum pada datang untuk sahur, terus ini juga warung baru buka setengah dan adzan tadi bukan adzan subuh tapi adzan awal, jadi kalianlah yang kecepetan sahurnya, ayo teruskan lagi masih lama imsaknya 2 jam lagi….”si uda menjelaskan lebih rinci. Sambil dilanjut makan sahur ya…makan malu juga nih.

Sari :

“Kalau berkunjung  ke suatu tempat apalagi dari adat, waktu dan suasana yang sangat berbeda dengan tempat asal jangan sungkan dan merasa sok tahu kawan, jadi tepat peribahasa mengatakan “Malu bertanya sesat di jalan dan malu-maluin”…jadi bertanyalah, bertanyalah..tapi tetap waspadalah. 🙂





Amarah di Bulan Ramadhan

20 08 2010

Ngomong-ngomong soal rasa marah,dendam tau gak sih kalo ada penelitian yang menunjukkan kalo sebagian besar penyakit bersumber dari amarah dalam hati. Seperti di tulis di harian Kompas bahwa kecemasan, depresi, kekhawatiran, insomnia, dan penyakit fisik adalah sedikit dari penyakit yang disebabkan faktor amarah tadi. Dengan memaafkan dan mengucap kata maaf, sebenarnya kita sudah mengambil kembali kendali hidup kita. Ditambah lagi bonus positif untuk kesehatan. Salah satunya adalah turunnya tekanan darah.Dalam studi The Stanford-Ireland Hope Project, Frederic Luskin PhD dan Carld Thoresen PhD melakukan penelitian tentang dampak memaafkan. Dalam studi ini dilibatkan 17 pria dan wanita yang anggota keluarganya pernah menjadi korban pembunuhan. Selama beberapa waktu para responden itu diberikan training “memaafkan”.

Setelah satu minggu, 35 persen para responden yang kehilangan pasangan, anak, orangtua, atau saudaranya itu melaporkan penyakit sakit kepalanya berkurang. Demikian juga dengan berbagai penyakit yang terkait stres lainnya. Sementara itu, 20 persen responden mengaku gejala depresinya berkurang.

Banyak orang mengakui, memberikan kata maaf bukanlah hal yang mudah. Meski demikian, ada 5 cara yang bisa kita pakai agar hati lebih tulus memaafkan seperti yang dijabarkan oleh Joan Borysenko PhD, penulis buku Inner Peace for Busy People.

1. Memahaami maksud dari memaafkan
Pada umumnya orang tak mau memberikan maaf karena mereka merasa hal itu sama saja dengan menyatakan bahwa orang lain tak berbuat salah atau kita berdamai dengan orang yang telah menyakiti hati kita.

Joan Borysenko PhD, psikolog, mengatakan, memaafkan adalah hal tentang melepaskan amarah yang selama ini menyandera Anda. Ini sama artinya dengan menerima Anda salah dan memutuskan untuk membebaskan diri dari hal yang menyakitkan.

2. Duka untuk yang hilang
Agar kita bisa memaafkan dengan tulus, kita harus merasakan kesedihan. Hal itu butuh waktu, tetapi setelah Anda memutuskan untuk melepaskan amarah, hati akan terasa lebih ringan secara bertahap. Pada saatnya, memori pada kejadian di masa lalu akan lebih jarang diingat dan rasanya tak lagi menyakitkan.

3. Jangan menunggu permintaan maaf
Terkadang orang yang kita anggap telah menyakiti hati kita tak menyadari perbuatannya salah. Atau mungkin juga mereka tak mampu memahami dan berempati. Permintaan maaf dari orang tersebut memang bisa menyembuhkan luka, tetapi memutuskan untuk membuang harapan ada permintaan maaf juga memiliki dampak yang sama.

4. Mencoba memahami alasan
Fakta menunjukkan, perilaku buruk adalah hasil dari emosi yang kurang matang. Ini terbukti dari pelaku kriminalitas yang mayoritas mengalami kekerasan fisik atau psikis pada masa kecilnya. Empati akan membantu kita mengikis rasa marah, bahkan mengubah hidup kita.

5. Sambut yang akan datang
Kehidupan merupakan sebuah sekolah tempat kita belajar banyak hal, termasuk yang menyakitkan. Kita tak bisa menghindarkan diri dari rasa sakit, tetapi kita bisa memilih untuk keluar dari bayang-bayang dendam seumur hidup kita.

(dari artikel Kompas.com)

Kejadian yang kami alami;

Yang kami alami 1 minggu kemarin (masih dalam suasana shaum ramadhan), telah terjadi perdebatan yang dianggap lawan bicara hal itu merupakan suatu amarah baginya, namun menurut kami itu merupakan penekanan untuk perlunya suatu penjelasan status kami yang seolah-olah terkatung-katung dan dipermainkan….peristiwa perdebatan/adu mulut (bukan marah/amarah) berlangsung dalam tempo 10 menit….., dan kurang lebih menit ke 11 berikutnya suasana menjadi cair malah ujung saling memaafkan….tap apa lacur beliau (lawan bicara) nelepon dan beranggapan pada peristiwa itu merasa diserang,…dan di marah-marahin,…padahal ujung peristiwa itu sudah clear dan saling memaafkan…..,

Kesimpulan dan Ibrah dari kejadian tersebut :

– Hanya Allah SWT yang maha tahu perkara nilai dari Nilai Shaum serta maksud tujuan Kami dalam peristiwa tersebut.

Erat hubungannya dengan 3 M (Memilih, Memilah, Memutuskan)

–  Memilih untuk memilah yang lebih baik  serta melepaskan yang mungkin besar madhorotnya dan melanjutkan hidup akan membuat KAMI menjadi individu-individu yang baru. Ini akan memberi KAMI kedewasaan dan belas kasihan kepada sesama dan juga diri KAMI.


Semoga 🙂